Go abroad ? You’re so lucky Idia


      Banyak orang yang mendengar bahwa saya ke luar negri dan berkata “ Wah beruntung sekali Idia bisa keluar negeri, andaikan waktu itu ikut pasti saya juga bisa keluar negeri”

Wait ... wait…

You all can say that I am lucky, but let me tell you something…

              Saya sangat ingin keluar negri dari SMA, saya selalu berandai- andai jika saya bisa ke Thailand, Turkey, Jepang atau Inggris. Waktu SMA saya mengikuti AFS, program pertukaran pelajar yang dibiayai penuh, sayangnya saya hanya tahap II. Saya sangat merasa bodoh dan kecewa pada diri sendiri. Biaya transportasi dari kampung ku ke Makassar cukup mahal dan membuat saya tidak enak kepada orang tua saya karena saya gagal.But it won’t stop me! Saya selalu bersemangat belajar Bahasa inggris ketika teman – teman saya membenci mata pelajaran itu.
              Lulus SMA saya melanjutkan sekolah di Universitas Hasanuddin dan saya dikenalkan organisasi yang bernama AIESEC. Saya mendengar bahwa ada Exchange Program yang namanya Global Volunteer, tanpa berpikir panjang saya langsung daftar dan mengikuti wawancaranya. Tahu tidak ? Pertanyaannya sangat diluar ekspetasi ku, contohnya “Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tersesat di bandara?” ,”Apa pendapat mu tentang teroris?” Dan masih banyak lagi. Sumpah itu pertama kalinya saya mendengar pertanyaan seperti itu. Benar saja, saya tidak lulus wawancara itu, saya gagal lagi dan lagi. Disitu saya sadar bahwa pengetahuan saya tentang isu dunia sangat sempit dan saya mencari cara  bagaimana untuk memperluas wawasan saya. Saya lalu daftar menjadi anggota AIESEC.
              Day by day, saya belajar banyak dari AIESEC. Saya pun memutuskan untuk mendaftar lagi program global volunteer ke Thailand. Dengan modal yang saya telah pelajari saya pun lulus tes wawancara yang langsung di wawancarai oleh orang Thailand. Di Thailand saya bertemu banyak orang dan menurut saya ke luar negeri membuka wawasan tentang dunia. Saya sangat bersyukur karena diberikan kesempatan untuk bergabung dalam program ini. Saya juga menjadi sangat tertarik dengan dunia suka relawan .
              Setelah dari Thailand saya mengetahui program pertukaran ke Jepang , saya pun mencari tahu apa persyaratannya dan bagaimana cara untuk lulus . Jika dipikir – pikir, saya mempersiapkan diri untuk ikut SUIJI selama 9 bulan, saya tes IELTS (padahal persyaratan SUIJI adalah TOEFL), saya juga belajar tentang budaya jepang dan mencari informasi dari alumni SUIJI.
              Dengan segala macam usaha yang saya lakukan untuk lulus suiji, Alhamdulillah saya pun lulus  Saya sangat senang walaupun saya harus berjuang untuk mendapatkan uang jajan selama di Jepang heheh. Kabar kelulusan saya di SUIJI jelas diketahui oleh teman – teman saya. Hingga ada beberapa orang yang membuat saya agak kecewa karena menyebut bahwa saya “beruntung”. Men! Saya tidak butuh di puji tapi kata “beruntung” agak menyakitkan buat. Itu bukan sesuatu yang kebetulan, itu adalah sesuatu yang saya perjuangkan sejak lama. Jatuh bangun saya dari daftar AFS, AIESEC, lalu SUIJI. Semua itu tidak instan.
              Well, kebanyakan ngoceh, saya teringat pada satu tulisan, “Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun . Karena yang menyukaimu tidak butuh itu dan yang membenci mu tidak percaya itu” – Ali bun Abi Thalib.
Saya cuman berharap seseorang membaca ini dan menjadikan sebagai motivasi bahwa tidak ada yang instan di dunia ini, semua butuh usaha dan doa .

Terima kasih telah meluangkan waktunya untuk membaca. 😊

Komentar