Dia
Malam ini, 16 November 2019 pukul
1:23 saya menulis tulisan ini. Saya sendirian dan merasa sepi di kos. Setiap
merasa sendiri saya selalu mengingat bapak saya. Tanggal 27 Oktober 2019, saya
tidak bisa melupakan saat dimana bapak saya meninggalkan kami sekeluarga. Jujur
saja sangat dekat dengan bapak saya, bahkan saat menulis ini air mata saya
tidak berhenti mengalir. Saya selalu mengingat jasa – jasanya dan kadang saya
menyesal selalu mengabaikan teleponnya ketika saya sedang sibuk. Saya juga
merasa saya kehilangan sosok panutan, sosok pemimpin dalam hidup saya. BAPAK
SAYA SANGAT RINDU, saya rindu bercerita tentang mimpi – mimpi saya, meminta
saran, berkeluh kesah. You always make me stronger.
Pak, walaupun dunia kita sudah
berbeda tapi bapak selalu hidup dalam hatiku. Ingat tidak pak waktu bapak
temani saya selama satu bulan untuk tes polwan? Sangat disiplin. Saya harus
bangun subuh, mandi, siap – siap menuju SPN Batua dan selalu sarapan di mobil
karena jarak dari rumah ke SPN Batua itu jauh. Setelah itu, bapak tunggu saya
tes dari pagi hingga hamper tengah malam. Bapak sangat setia. Waktu semua casis
polwan memiliki sepatu yang bagus sedangkan saya sepatu lama, bapak menyuruh
saya beli sepatu yang bagus juga. Bapak selalu juga mengantar saya untuk lari keliling
UNHAS, berenang dan push up. Tapi, mohon
maaf pak saya tidak lolos menjadi polwan. Maaf telah mengecewakanmu. Maaf .
Ingat tidak waktu saya tes
polwan, besoknya saya harus tes SBMPTN, pak? Saya mengeluh karena saya tidak
mau kuliah saat itu, saya tidak mau pergi tes
karena saya tidak punya persiapan sama sekali, tapi bapak bilang coba
saja, lalu mengantar tes dan menunggu hingga tes selesai. Terima kasih telah
membujukku saat itu karena sekarang saya sangat suka kuliah di jurusanku bapak.
Apa yang tidak saya suka tapi menurutmu baik, sekarang menjadi berkah yang luar
biasa untuk saya.
Terima kasih bapak selalu support
saya dan mempercayai saya sehingga saya bisa seperti sekarang. Saya berjanji
akan terus membahagiakan bapak, tidak lupa ALLAH SWT.
Tulisan bapak yang diselipkan dalam
Al- Qur’anku, yang isinya doa di waktu sujud terakhir saat shalat adalah
tulisan terakhir darimu untukku, Insya Allah akan saya amalkan. Tulisan
terakhirmu sangat bermanfaat, bapak tidak hanya memikirkan duniaku tapi juga
akhiratku.
Ampuni saya pak, maafkan saya
pak, waktu bapak masih hidup saya begitu malas kalau bapak suruh urut pakai
reason, alasan saya selalu saya tidak ingin tangan saya pedis jadi saya pakai
sendok. Maaf pak maaf.
Pak walaupun saat wisuda nanti
bapak tidak ada, tapi semangatku untuk meraih gelar sarjana tidak akan
berkurang. Insya Allah saya ikhlas. Semoga nanti kita akan bertemu di surganya
Allah. Aamiin
I love you Dad. You always live
in my heart.
Komentar
Posting Komentar